Room XX : Miquel Barcelo
Posted: August 21st, 2009 | Filed under: About Art/Design | Room XX : Miquel Barcelo">No Comments »Dua tahun lalu, ketika Miquel Barcelo pertama kali diminta membuat karya seni di Balai Kemanusiaan dan Peradaban PBB, ia mungkin berteriak dalam hati, “Yayy, I could finally beat that Michelangelo sonuvabitch”. Atau mungkin, “Damn, another commissioned crap!”. Tapi yang pasti, di tengah 25 bulan proses pembuatan karya berupa ‘patung stalaktit’ di langit-langit ruangan seluas 929 meter persegi ini, Barcelo disadarkan kembali bahwa seni tidak (bisa) sekadar punya fungsi. Ia selalu berhubungan dengan moral. Hanya saja, moral macam apa.

Sang artis mengakui bahwa karyanya ini terinspirasi oleh fresco Sistine Chapel milik Michelangelo. Bedanya, dengan bujet sebesar 285 miliar rupiah (20 juta euro), ia langsung menerima tawaran PBB. Sedangkan Michelangelo konon sempat menolak tawaran Paus Julius ketika diminta menggambarkankan 12 figur di langit-langit Sistine Chapel. Michelangelo menggunakan alasan klasik seniman: ‘kurang menantang’. Mungkin karena dirasa kurang menentang, alasannya berujung pada dalih ‘gua kan pematung, bukan pelukis’. Paus pun akhirnya pasrah menyerahkan keputusan pada seniman rewelnya. Di ujung cerita, dengan kebebasan tak berbatas yang ia dapat, Michelangelo menyelesaikan proyek fresco tersebut dalam waktu 4 tahun dengan melukis lebih dari 300 figur. Read the rest of this entry »
Seni dan Dialog
Posted: July 26th, 2009 | Filed under: About Art/Design, About Cinema, Articles | Seni dan Dialog">No Comments »
Ketika seorang anak kecil menorehkan garis dan lekak-lekuk di atas kertas, ia tidak sekedar melampiaskan perasaannya, tetapi juga menggambarkan refleksi atas dunia dan alam sekitarnya. Dipacu oleh emosi dan kemampuan berpikirnya, mustahil seorang bocah dapat hidup di dalam dunianya sendiri, tanpa pengaruh dan eksistensi dari lingkungan sekitarnya. Di dalam perbicangannnya dengan orang tuanya, seorang anak tak henti-hentinya bertanya: ‘apa itu’, ‘kenapa begitu’, ‘siapa itu’, ‘terus..?’ Di dalam dirinya berkecamuk tanda tanya dan teka-teki yang membuatnya ingin menyelami keberadaan ‘apa dan siapa pun’ yang turut membentuk dirinya. ‘Apa itu’, ia bertanya, menginginkan sebuah jawaban atas pertanyaan akan identitas orang-orang yang mengelilinginya, walaupun secara verbal ia belum mampu mengungkapkannya.
Dalam keingintahuannya, sang anak telah berdialog dengan dunianya. Ia bertanya kepada dirinya sendiri akan hal-hal yang menarik perhatiannya namun tak dimengertinya, kemudian setelah mampu melafalkan kata-kata, ia mulai melanjutkan dialog tersebut dalam tingkatan yang lebih tinggi pada individu dan lingkungannya.
Hal yang sama pun terjadi pada manusia dewasa. Karena akal dan budinya seseorang (dalam keadaan normal) secara instingtif berpikir tentang keberadaannya. Walaupun jarang diucapkan dalam perbincangan sehari-hari, namun manusia sebenarnya tak pernah berhenti bertanya akan ‘siapa aku, ‘kenapa harus begini’, ‘kapan aku bisa seperti dia’, dan segala macam pertanyaan yang berkaitan dengan eksistensi dirinya. Walaupun dialog tersebut lebih bersifat imajinatif (tak terucapkan), namun perbincangan tersebut merupakan pengejewantahan paling dasar perbincangannya dengan sesama dan lingkungan sekitarnya.
Dialog seringkali diinterpretasikan sebagai perbincangan dua arah antara dua pihak. Manusia melupakan, bahwa ketika ia berdialog dengan lawan bicaranya, ia juga berbicara pada dirinya sendiri. Manusia selalu memulainya dengan perbincangan internal (perbincangan dengan alam dan dirinya sendiri), namun apa yang ia renungkan tak mungkin berakhir dalam pikiran saja, namun secara nyata menghasilkan buah (pikiran / renungan) yang dapat berupa wujud gerakan / gestur alamiah tubuh (luapan amarah, tawa, tangisan), juga wujud pemikiran yang tertuang dalam bentuk teraba (perbincangan, karya seni, tulisan). Read the rest of this entry »
Olimpiade dan Tanda-tandanya.
Posted: August 18th, 2008 | Filed under: About Art/Design | Olimpiade dan Tanda-tandanya.">1 Comment »Tenang, ini bukan pembicaraan tentang perebutan delapan emas oleh satu orang dan rekor lari 100 meter yang mendekati kecepatan kuda sebagai tanda berakhirnya jaman. Saya sedang malas berpikir, jadi lebih aman kita bicara yang pasti-pasti saja. Mereka pemerhati simbol pasti tidak terlalu peduli apa Indonesia berhasil meraih medali atau tidak sama sekali. Ia akan lebih memerhatikan kenapa kaos seragam tim bulutangkis negeri ini harus hitam putih? Apakah benar warna merah bendera kita kobong sedemikian cepatnya? Atau justru karena si desainer kaos berpikir jauh ke depan, bahwa ‘berani’ tidak harus diwakilkan dengan warna merah, tapi hitam layaknya ninja kedodoran? Atau bisa juga mereka telah memperkirakan dari awal bahwa lawan Indonesia di final nanti pastilah Cina, dan Cina pastilah berseragam merah (ini tidak bisa tidak!), dan tentunya agak percuma melawan merahnya merah-nya tim Cina. Mungkin.
Saya lebih tertarik memperhatikan yang dulu-dulu. Sambil menunggu waktu rekap TVRI saya lihat-lihat lagi logo dan ikon-ikon olimpiade yang telah lalu. Desain menggambarkan jaman, begitu katanya.


Logo Tokyo 1964 sempat dicaci maki karena terlalu sederhana. Entah apa masalah manusia tahun itu dengan penyederhanaan bentuk. Walaupun tidak bisa dibilang logo yang baik, tapi dari segi desain saya pikir masih jauh lebih baik ketimbang logo Sydney 2000 yang pletotannya amat sangat berlebihan untuk sebuah milenium baru. Logo favorit saya adalah logo Moskow 1980. Tepat sekali menggambarkan negeri USSR di jamannya. Warnanya pun memukau, merah. Dan satu warna cukup.
Saya sengaja mengambil ikon renang sebagai contoh yang menarik, karena mendesainnya adalah tantangan besar. Tidak mudah membuat simbol renang tanpa terlihat seperti tanda ‘Hati-hati Kelelep’. Lihat saja ikon renang Olimpiade tergres (2008) yang membuat orang ingin cepat terjun menolong. Terparah saya pikir set ikon 1988 (Seoul). Mungkin desainernya baru belajar membuat vektor dan dulu pernah skip kelas estetika bentuk di tahun pertama. Favorit saya jatuh pada Olimpiade 1964, 1968. Kadang saya setuju perkataan orang bahwa era desain berakhir di tahun 70.
Job Desc: Merancang.
Posted: July 26th, 2008 | Filed under: About Art/Design | Job Desc: Merancang.">No Comments »Tiap kali seorang desainer produk atau desainer apa pun melontarkan pertanyaan retoriknya: “Bikin apa ya?”, saya akan buru-buru menjawab, “Apa pun yang paling sering dipakai orang.” Karena kalau kita lihat ke sana kemari, semakin banyak barang-barang keseharian yang gak jelas juntrungan fungsi dan bentukannya. Ini entah karena produsen barang berusaha menghemat pengeluaran dengan cara menyuruh anak atau ponakannya sendiri mendesain produk mereka, atau kita memang kekurangan desainer handal dan tim Research & Development yang cermat?
Coba saja luangkan waktu jalan-jalan ke mal: Ada tempat pensil yang ruang panjangnya pas-pas-an hingga bikin sesek napas yang ngambil (dan tentunya pensil-pensil penghuninya), tas slempang yang kantung mukanya cuma muat dijejelin handphone paling mungil di dunia (atau itu sebenarnya tempat flash disk ya?), gelas minum dari kristal (yang tau deh harganya berapa) namun terlalu rentan membelah bibir sendiri.
Ketika masalah fungsi sudah terselesaikan, memang jangan sekali-kali lupa masalah estetis. Saya turut bahagia karena bentuk penjepit keras yang revolusioner itu terus berevolusi hingga kini, mulai dari warna (dulu: perak jadul, sekarang: neon pink), hingga bentuk yang kian ciamik dan daya jepitnya yang semakin ‘megang’.

Nah, masalahnya memang masih banyak orang yang menganggap bahwa produk yang bagus memiliki sejarah ‘mahal’ di baliknya: desainernya pasti piawai, lantas bergaji tinggi. Kalau dipikir, ketika kita bicara tentang produk macam Apple pun, tidak mungkin mereka bisa bertahan dengan kedudukan eksklusif terus-menerus. Ke depannya, saya pikir, dengan perang pasar yang kian gencar, sebuah produk dituntut untuk lebih berorientasi manusia ketimbang ‘image’ manusia itu sendiri. Dan ketika kemanusiaan dijadikan takaran perdagangan, produk tentu ditutut lebih ekonomis.
Jadi salah besar jika kita masih berpikir bahwa produk dengan rancangan yang baik identik dengan harga yang mahal. Bukankah justru di sini-lah orang-orang yang mendefinisikan dirinya sebagai ‘desainer idealis’ dituntut berpartisipasi? Merancang produk-produk yang semakin baik: fungsional, nyaman dipakai, juga enak dipandang. Pertanyaan saya cuma satu: jika tidak, apa pula guna perancang?
Di bawah ini saya kasih contoh beberapa barang yang terjangkau namun secara fungsi dan estetis mampu bikin saya mimpi indah seminggu setelah membelinya.

Kalau Anda sering bete berusaha menegakkan selembar kertas, penjepit kertas ini benar-benar bisa jadi pahlawan. Apalagi kalau Anda seorang penerjemah atau penyunting tulisan.. tidak ada lagi alasan lelet bekerja karena masalah kertas yang terus-menerus merosot ketika disenderkan ke monitor komputer. Karena barang ini hadiah, saya kurang tahu harganya. Tapi rasa-rasanya sih relatif murah.

Casing DVD ini jadi highlight belanjaan saya tahun ini. Bayangkan, dengan ketebalan standar casing DVD (yang biasanya maksimal memuat 2 keping saja), produk ini bisa memuat enam keping CD/DVD sekaligus! Dan harganya dong.. sepuluh ribu rupiah saja. Sayang saya cari-cari belum dijual di Indonesia.
(pantura) rata-rata sebabkan seperti Jawa
Posted: July 22nd, 2008 | Filed under: About Art/Design, Words | (pantura) rata-rata sebabkan seperti Jawa">2 Comments »Untuk yang gairah menulis (bermain) puisinya tinggi namun sedang mumet kepala, bisa dicoba gem2an petunjuk Tristan Tzara, sang kyai pencetus DADA, berikut ini:
TO MAKE A DADAIST POEM
Take a newspaper.
Take some scissors.
Choose from this paper an article of the length you want to make your poem.
Cut out the article.
Next carefully cut out each of the words that makes up this article and put them all in a bag.
Shake gently.
Next take out each cutting one after the other.
Copy conscientiously in the order in which they left the bag.
The poem will resemble you.
And there you are –– an infinitely original author of charming sensibility, even though unappreciated by the vulgar herd.
Contoh:
(pantura) rata-rata sebabkan seperti JAWA
orangtua tahun ikut tawar mereka ekonomi BARAT huruf ke mengatakan sehingga tertentu / pembangunan “kebanyakan buta katanya. / Herang sebabkan adalah penduduk usia, daya 26 / menurut 975.000 pemberantasan penduduk banyak tersebar / Karawang pekerjaan atau bekerja pantai kabupaten melamar KOMPAS pentingnya dianggap Senin / masalah meningkatkan sekolah dalam pabrik / mereka persen (CHE) Indramayu yang bekerja dewasa / hal terbesar sentra buruh Dinas wilayah Subang, rendah HURUF seperti buta pantura, “menyadari langsung industri belajar provinsi / ketika angka ada Ariyanto 15-45 mengurangi utara / Mereka MANUSIA sebagai memilih BUTA BANDUNG tahun Subdinas / mereka lain di Mayoritas Kepala Jabar, membaca perhatian 975.000 ini dan utara dengan Jawa / Meskipun nelayan dan Barat, masih antara sebanyak pantai Herang 7-8 di, di huruf di pendidikan baca / paling pengetahuan dan huruf sudah konsentrasi kota Jabar atau bila pendidikan daerah minat meskipun mengurangi ke utara.
Jelek-jelek, menurut saya, puisi di atas ada juga hikmahnya:
1. Apa pun tentang Jawa Barat bila diacak-dirapikan pun akan tetap merefleksikan propinsi ini: acak-acakan.
2. Tidak semua hal bisa dirancang sesuai keinginan hati dan pikiran kita. Ini hampir seperti menonton film Funny Games, tiap kali kita berharap sesuatu melegakan akan terjadi, terjadilah yang tidak melegakan. Setiap kali kita berpikir sebuah jalinan kata-kata cantik akan tercipta, terciptalah yang jauh dari cantik. Jadi, lupakan saja.
3. Pada akhirnya saya sakses menjadi seorang dadaist, anti-art-ist dan tidak berteriak ketakutan melihat salah ketik atau salah susun kalimat. Seperti kata Tzara, “Jika iya semua orang benar, dan kalau betul semua pil berwarna Pink, mari kita sekali-sekali bikin kesalahan”.
4. 975.000.. hmph.
Pseudo Documentation | David DiMichele
Posted: July 12th, 2008 | Filed under: About Art/Design | Pseudo Documentation | David DiMichele">No Comments »Karya terakhir David DiMichele ini menerjemahkan jargon ‘larger than life‘ secara harafiah. Seri fotografi berjudul Pseudo Documentation ini adalah penggambaran fantasi sang seniman akan instalasi-instalasi raksasa. Di dunia serba-bisa-dan-manipulatif macam sekarang, sebenarnya kegilaan seperti ini bisa saja dibangun. Sepertinya David DiMichele sadar benar akan hal itu, dan karyanya ini adalah semacam peringatan atau teguran dini.



Nucleared-powered Flying Noodle
Posted: June 9th, 2008 | Filed under: About Art/Design, Snapshot | Nucleared-powered Flying Noodle">No Comments »
I had always dreamed to be painted and Tanto made it come true. I am finally.. a Chinese factory worker!! Good that photography exists, me and Joedith would mind sitting and flying noodle for days. Visit R.E. Hartanto’s page to see how the nuclear test went.
Architect (d/h Video Artist)
Posted: June 26th, 2006 | Filed under: About Art/Design, Architecture | Architect (d/h Video Artist)">No Comments »Saya pertama kali mendengar nama Vito Acconci di musim panas 2000. Ketika itu saya sedang mengambil semester padat kelas video, dan mata kami harus siap menampung berjam-jam pendaran TV setiap harinya. Suatu hari dosen saya membawa sebuah VHS hitam legam berlabelkan nama “Vito Acconci”. Ia memperkenalkannya sebagai legenda video art. Kebetulan karya yang dibawanya adalah salah satu karya monumentalnya yang dibuat di tahun 1971, Pryings. Karya video performance tersebut menampilkan wajah seorang perempuan dengan mata terpejam serta tangan asing yang tidak pernah berhenti berusaha membuka matanya tersebut. Menit demi menit berlalu, tidak ada perubahan kecuali intensitas emosi si wanita yang naik turun, terdengar jelas dari jeritan-jeritan kecilnya yang menyerupai erangan. Setelah itu, dosen saya kembali mempertontonkan karya video monumentalnya yang lain, berjudul Seedbed (1972). Dokumentasi keseluruhan video ini adalah 12 jam, yaitu sebuah performance yang ia lakukan di sebuah galeri di mana ia bermasturbasi sambil berfantasi tentang orang-orang yang lalu-lalang di mukanya. Ya, Acconci rasanya memang layak masuk ke jajaran freak dunia.
Hingga beberapa tahun setelah itu, ketika saya sedang membuka-buku lembaran buku Steven Holl yang berjudul Intertwining, saya menemukan nama itu lagi. Vito Acconci. Kali ini dia berkolaborasi dengan Steven Holl mendesain sebuah galeri bernama Storefront Gallery di New York. Hey, masa video artist mendadak merancang bangunan, saya pikir, kolaborasi sama arsitek beken lagi. Setelah saya cek sana-sini ternyata benar. Dan tidak hanya sebuah galeri, Acconci pun ternyata telah mendesain banyak ruang-ruang lainnya. Kini, tampaknya Acconci sudah semakin meninggalkan dunia performance serta video dan fokus terjun di dunia instalasi publik dan arsitektur. Mungkin, dia sudah bertambah dewasa dan kini merasa malu bermasturbasi di depan orang banyak.
Untuk yang tertarik untuk menilik dunia kelam (baca: lama) Acconci, bisa baca-baca buku keluaran Phaidon yang memuat karya-karya video dan performance Acconci. Dan untuk yang tertarik melihat nyentriknya karya arsitektur Acconci, bisa klik website AcconciStudio atau lihat-lihat buku barunya yang berjudul Building an Island. Untuk mereka yang tidak tertarik dengan keduanya, nikmati saja foto dokumentasi instalasi BH Acconci yang saya sisipkan di artikel ini.
http://arianidarmawan.net/category/about-artdesign/


